Etika Filosofis dan Etika Teologis
Pendahuluan
Etika berasal dari kata Yunani Ethos. Ethos dapat diartikan juga kebiasaan, dapat pula berarti susila dan dapat pula diartikan adat istiadat. Etika memiliki beberapa macam, seperti etika filosofis, etika teologis, etika praktis dan etika lainnya. Dalam presentasi ini kelompok akan menjelaskan tentang etika filosofis dan etika teologis.
Di dunia Timur, Etika Teologis itu lebih tua daripada Etika Filosofi. Di dunia Barat, Etika Filosofis yang lebih tua daripada Etika Teologis. Kedua etika ini saling bertentangan. Maka timbul pertanyaan, “Apakah Etika Filosofis dan Etika Teologis itu?”, “Mengapa Etika Filosofis dan Etika Teologis ini bertentangan?”. Dalam tulisan ini kami akan menjawabnya.
Etika dikenal sebagai suatu cabang filsafat. Etika merupakan suatu ilmu namun ketika etika dijadikan sebagai filsafat, ia tidak merupakan suatu ilmu empiris. Dikatakan demikian karena filsafat tidak hanya membatasi diri dengan semua hal yang bersifat empiris (pengalaman inderawi) dan yang konkret. Bahkan lebih dari itu, ia berbicara melampaui segala kekonkretan yang ada. Pemikirannya selalu bersifat non-empiris. Itulah yang menjadi ciri khas dari filsafat. Ciri ini juga tampak jelas pada etika. Etika tidak hanya membatasi diri pada segala sesuatu yang konkret, pada semua hal nyata yang dilakukan. Ia menekankan tentang apa yang boleh dan yang tidak boleh dilakukan, tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Dapat disimpulkan bahwa ketika etika disebut juga sebagai suatu cabang filsafat atau bisa dikatakan etika filsafat atau etika filosofi, ia berbicara tentang segala sesuatu “yang ada” sekaligus menilai mana “yang harus dilakukan dan yang tidak” dan berhubungan langsung dengan perilaku manusia. Karena itu ia disebut juga “filsafat praktis”. Di dalam etika filosofis juga terdapat sebuah analisa mengenai makna apakah yang dikandung oleh istilah-istilah kesusilaan. Analisa ini dilakukan dengan cara menyelidiki penggunaan istilah-istilah yang dikandung pernyataan-pernyataan dalam kenyataan hidup sehari-hari. Oleh sebab itu manusia dapat hidup yang lebih baik serta berbuat yang betul tergantung oleh susila manusia itu sendiri. Karena masalah-masalah yang paling utama dalam kehidupan manusia bersangkutan dengan kesusilaan.
Macam-macam Etika Filosofis
Prof. Dr. W. Banning dalam bukunya Typen van Zedeleer, telah menjelaskan dengan terang macam-macan etika filsafat ini.
Macam-macam etika filsafat sebagai berikut:
1. Etika metefisika , norma-norma baik dan buruk tidak dicari di dalam kehendak Allah, tetapi di luar firman dan kehendak Allah, aliran ini mencari norma-norma di dalam idea, di dalam alam, di dalam pertumbuhan evolusi dan lain-lain.
2. Etika yang didasarkan pada individu, aliran ini mencari norma baik-buruk itu di dalam nafsu, atau di dalam keberuntungan.
3. Etika yangdidasarkan pada masyarakat, aliran ini mencari normanya di dalam guna atau kepentingan bagi golongan tertentu, atau di dalam hasil-hasil tindakan-tindakan tertentu.
4. Etika nilai-nilai, aliran ini mencari norma baik-buruk itu di dalam nilai-nilai tertentu, misalnya: kebaikan, kebenaran, keindahan.
Selain Prof Dr. W. Banning, ada penulis-penulis lain yang mengikhtisarkan Etika Filosofis ini dengan membagi bentuk-bentuk dalam:
1. Etika otonom, mendasarkan norma-normanya kepada ehidupan sendiri (idea, nafsu, keberuntungan, vitalitas, perasaan, nilai dan sebagainya. Di sini manusia yang bertindak sebagai pembuat undang-undang. Autos, adalah si-Aku, yang menetapkan nomos, undang-undang.
2. Etika heteronom, mengambil norma-normanya dari si-Aku,tetapi dari yang lain (heteros) di dalam masyarakat kemanusiaan. Misalnya, dari rakyat (moral fasisme), dari kaum proletar (moral marxisme), atau dari kemanusiaan (moral humanisme).
3. Etika teonom, memakai penyataan Allah sebagai sumber. Tetapi di sini haruslah, selalu ditanyakan: Siapa Allah itu dan bagaimana Ia menyatakan diri?
Jenis Etika
Etika Filosofis
Etika filosofis secara harfiah (fay overlay) dapat dikatakan sebagai etika yang berasal dari kegiatan berfilsafat atau berpikir, yang dilakukan oleh manusia. Karena itu, etika sebenarnya adalah bagian dari filsafat; etika lahir dari filsafat
Etika termasuk dalam filsafat, karena itu berbicara etika tidak dapat dilepaskan dari filsafatKarena itu, bila ingin mengetahui unsur-unsur etika maka kita harus bertanya juga mengenai unsur-unsur filsafat. Berikut akan dijelaskan dua sifat etika
1. Non-empiris Filsafat digolongkan sebagai ilmu non-empiris. Ilmu empiris adalah ilmu yang didasarkan pada fakta atau yang kongkret. Namun filsafat tidaklah demikian, filsafat berusaha melampaui yang kongkret dengan seolah-olah menanyakan apa di balik gejala-gejala kongkret. Demikian pula dengan etika. Etika tidak hanya berhenti pada apa yang kongkret yang secara faktual dilakukan, tetapi bertanya tentang apa yang seharusnya dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
2. Praktis Cabang-cabang filsafat berbicara mengenai sesuatu “yang ada”. Misalnya filsafat hukum mempelajari apa itu hukum. Akan tetapi etika tidak terbatas pada itu, melainkan bertanya tentang “apa yang harus dilakukan”. Dengan demikian etika sebagai cabang filsafat bersifat praktis karena langsung berhubungan dengan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan manusia. Tetapi ingat bahwa etika bukan praktis dalam arti menyajikan resep-resep siap pakai. Etika tidak bersifat teknis melainkan reflektif. Maksudnya etika hanya menganalisis tema-tema pokok seperti hati nurani, kebebasan, hak dan kewajiban, dsb, sambil melihat teori-teori etika masa lalu untuk menyelidiki kekuatan dan kelemahannya. Diharapakan kita mampu menyusun sendiri argumentasi yang tahan uji.
Etika Teologis
Ada dua hal yang perlu diingat berkaitan dengan etika teologis. Pertama, etika teologis bukan hanya milik agama tertentu, melainkan setiap agama dapat memiliki etika teologisnya masing-masing.Kedua, etika teologis merupakan bagian dari etika secara umum, karena itu banyak unsur-unsur di dalamnya yang terdapat dalam etika secara umum, dan dapat dimengerti setelah memahami etika secara umum.
Secara umum, etika teologis dapat didefinisikan sebagai etika yang bertitik tolak dari presuposisi-presuposisi teologis. Definisi tersebut menjadi kriteria pembeda antara etika filosofis dan etika teologis. Di dalam etika Kristen, misalnya, etika teologis adalah etika yang bertitik tolak dari presuposisi-presuposisi tentang Allah atau Yang Ilahi, serta memandang kesusilaan bersumber dari dalam kepercayaan terhadap Allah atau Yang Ilahi.Karena itu, etika teologis disebut juga oleh Jongeneel sebagai etika transenden dan etika teosentris. Etika teologis Kristen memiliki objek yang sama dengan etika secara umum, yaitu tingkah laku manusia. Akan tetapi, tujuan yang hendak dicapainya sedikit berbeda, yaitu mencari apa yang seharusnya dilakukan manusia, dalam hal baik atau buruk, sesuai dengan kehendak Allah.
Setiap agama dapat memiliki etika teologisnya yang unik berdasarkan apa yang diyakini dan menjadi sistem nilai-nilai yang dianutnya. Dalam hal ini, antara agama yang satu dengan yang lain dapat memiliki perbedaan di dalam merumuskan etika teologisnya.
Relasi Etika Filosofis dan Etika Teologis
Terdapat perdebatan mengenai posisi etika filosofis dan etika teologis di dalam ranah etika. Sepanjang sejarah pertemuan antara kedua etika ini, ada tiga jawaban menonjol yang dikemukakan mengenai pertanyaan di atas, yaitu:
Revisionisme
Tanggapan ini berasal dari Augustinus (354-430) yang menyatakan bahwa etika teologis bertugas untuk merevisi, yaitu mengoreksi dan memperbaiki etika filosofis.
Sintesis
Jawaban ini dikemukakan oleh Thomas Aquinas (1225-1274) yang menyintesiskan etika filosofis dan etika teologis sedemikian rupa, hingga kedua jenis etika ini, dengan mempertahankan identitas masing-masing, menjadi suatu entitas baru. Hasilnya adalah etika filosofis menjadi lapisan bawah yang bersifat umum, sedangkan etika teologis menjadi lapisan atas yang bersifat khusus.
Diaparalelisme
Jawaban ini diberikan oleh F.E.D. Schleiermacher (1768-1834) yang menganggap etika teologis dan etika filosofis sebagai gejala-gejala yang sejajar. Hal tersebut dapat diumpamakan seperti sepasang rel kereta api yang sejajar.
Mengenai pandangan-pandangan di atas, ada beberapa keberatan. Mengenai pandangan Augustinus, dapat dilihat dengan jelas bahwa etika filosofis tidak dihormati setingkat dengan etika teologis. Terhadap pandangan Thomas Aquinas, kritik yang dilancarkan juga sama yaitu belum dihormatinya etika filosofis yang setara dengan etika teologis, walaupun kedudukan etika filosofis telah diperkuat. Terakhir, terhadap pandangan Schleiermacher, diberikan kritik bahwa meskipun keduanya telah dianggap setingkat namun belum ada pertemuan di antara mereka.
Ada pendapat lain yang menyatakan perlunya suatu hubungan yang dialogis antara keduanya. Dengan hubungan dialogis ini maka relasi keduanya dapat terjalin dan bukan hanya saling menatap dari dua horizon yang paralel saja. Selanjutnya diharapkan dari hubungan yang dialogis ini dapat dicapai suatu tujuan bersama yang mulia, yaitu membantu manusia dalam bagaimana ia seharusnya hidup.
Tokoh Etika Filosofis
Kelompok akan memberikan salah satu tokoh Etika Filosofis ini, yaitu Emanuel Kant. Emanuel Kant memberikan Etika Filosofis ini dalam bukunya Kritik des Praktischen Vernunft (Kritik Akal Budi yang Praktis) .
Emanuel Kant
Emmanuel Kant ( 1724-1804) adalah filsuf yang sangat berpengaruh dalam sejarah filsafat modern, ia juga mengajarkan tentang etika. Etika Kant adalah etika yang murni “apriori“, atau dengan kata lain, etika ini tidak didasarkan atas pengalaman empiris, misalnya perasaan enak-tidak enak, untung-rugi, cocok-tidak cocok dan sebagainya. Dengan kata lain, etika Kant dibangun seluruhnya dari prinsip-prinsip intelektualitas, sehingga dapat di pertanggungjawabkan secara rasional. Kant mendapat hasil yang rupanya sama dengan hasil dari iman (jiwa abadi dan Allah), tetapi Kant menyangka bahwa hasil itu dicapai hanya dengan menggunakan akal saja. Akal menggunaka susila saja sebagai titik tolak, dan bukan pernyataan Allah.
Setiap orang yang mempelajari etika Kant dengan cermat tidak akan meragukan bahwa etika ini sangat mengesankan. Meskipun memiliki berbagai keunggulan, bukan berarti etika Kant tanpa masalah, masalah kewajiban dalam pandangan Kant masih sangat abstrak. Apakah dalam kenyataannya orang bertindak melakukan kewajiban demi kewajiban belaka? Seandainya kita memenuhi kewajiban demi kewajiban semata-mata, apakah sikap tesebut dapat dipertanggungjawabkan di hadapan akal budi yang sehat? Bukankah orang melakukan kewajiban tidak secara buta demi kewajiban itu sendiri, melainkan demi nilai-nilai yang ingin diperjuangkan? Dengan demikian, kewajiban bertujuan pada pelaksanaan nilai-nilai ( kritik dari Max Scheler, 1874-1924 ). Max Scheler adalah filsuf dari Jerman, Menurut Scheler orang bertindak bukan demi untuk kewajiban belaka sebagaimana yang di ajarkan Kant, melainkan demi nilai-nilai. Scheler memperlihatkan nilai-nilai itu dapat digolongkan ke dalam empat bagian. Pertama, nilai-nilai enak-tidak enak, yang berhubungan dengan kenikmatan-kenikmatan penglihatan. Kedua, nilai-nilai vital: kesehatan keberanian, kebesaran hati. Ketiga, nilai-nilai rohani yang meliputi: nilai-nilai estetis ( indah-jelek ), nilai-nilai etis (keadilan dan kebenaran), nilai-nilai yang berhubungan dengan pengetahuan murni yang dijalakan tanpa pamrih (filsafat). Keempat, nilai-nilai yang menyangkut objek-objek absolut (yang kudus, yang profan, nilai religius).
Apakah etika teologis itu?
Sejarah singkat etika teologis:
Etika pertama kali ada mulai sejak abad pertama, namun etika terebut tidak secara khusus dipelajari. Namun seiring berjalannya waktu, pokok-pokok etikapun dibuat. Tokoh-tokoh yang mulai memberikan pemikiran pada pembuatan pokok-pokok itu seperti; Tertullianus yang menulis tentang hal-hal apa saja yang boleh dilakukan oleh seorang Kristen, Ambrosius yang fokus pada etika yang mengatur tentang kewajiban-kewajiban para pejabat, dan Agustinus yang fokus pada etika tertentu yaitu;tentang kesabaran, tentang dusta karena terpaksa, dan sebagainya.
Kemudian dalam abad pertengahan, hal-hal tentang etika dibicarakan lagi dalam “Libri poenitentiales” (kitab-kitab mengenai pengakuan dosa) Di masa reformasi, ketiga tokoh reformator (Luther, Calvin, dan Zwingi) juga memberikan suaranya mengenai etika politik dan etika jabatan. Selain tokoh reformator, ada juga Schleiermacher yang baginya etika mencoba menerangkan tentang kehidupan orang-orang beriman. Di abad ke-19 dan awal 20, banyak orang yang mengikutinya. Berbeda dengan Kuyper yang menurutnya etiak itu termasuk golongan dogmatika dan dapat diuraikan secara khusus. Dan pendirian ini dipertahankan oleh Prof. Dr. W. Geesink dan Prof. Karl Bath.
Bertolak dari sejarah yang diuraikan, dapat disimpulkan bahwa etika teologis adalah sebuah etika yang bertolak dari praanggapan-praanggapan tentang Allah/ilahi. Sehingga, secara singkat dapat dikatakan bahwa etika teologis adalah sebuah etika yang didasarkan atas unsur-unsur agama. Berbeda dengan etika flosofis, etika teologis memiliki sifat transempiris yaitu pengalaman manusia dengan Allah yang melampaui kesusilaan tidak dapat diamati manusia dengan pancainderanya. Karena etika teologis berhubungan dengan yang ilahi, maka sumber utama yang dijadikan bagi etika ini ialah Alkitab dan alat bantu lainnya.
Persamaan dan Perbedaan Etika Filosofis dan Etika Teologis
Kedua etika ini sama-sama fokus pada objek tentang moralitas. Selain itu kedua etika ini sama-sama berurusan dengan bagaimana seharusnya manusia berperilaku yang benar dalam hidupnya,menentukan prinsip-prinsip apa yang harus diikuti, dan bertanggungjawab atas pilihan yang telah diputuskan. Perbedaannya ialah: etika filosofis lebih menggunakan akal budi (logika) untuk menjawab masalah-masalah hidupnya, sedangkan etika teologis berangkat dari Allah/ilahi yang bersumber dari Alkitab untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dalam hidupnya.
Penutup
Setelah melihat sejarah, definisi, tugas, bahkan persamaan dan perbedaan etika Filosofis dan etika Teologis kita dapat melihat bahawa kedua etika ini sangat berpengaruh dalam kehidupan manusia. Meskipun perbedaan antara kedua etika ini begitu mencolok, namun tidak dapat dipungkiri bahwa etika Teologis tidak dapat dilepaskan dari etika Filosofis, karena etika Teologis harus peka terhdap permasalahan kesusilaan yang jutru sering dinyatakan melalui etika filosofis.
Kepustakaan
Abineno, J.L.Ch. Sekitar Etika dan Soal-soal Etis. Jakarta: BPK GM, 1996.
Bertens, Kees. Etika. Jakarta: Gramedia, 1993.
Douma, J. Kelakuan yang Bertanggung jawab: Pembimbing ke dalam Etika Kristen. Jakarta:
BPK GM, 1993.
Jongeneel, J.A.B. Hukum Kemerdekaan: Buku Pegangan Etika Kristen, Jilid 1: Bagian
Umum. Jakarta: BPK GM, 1980.
Verkuyl, J. Etika Kristen1: Bagian Umum. Jakarta: BPK GM, 1993.
Jumat, 14 Oktober 2011
Langganan:
Komentar (Atom)


